Road to Victory
By: Feriano Sugiharto

Setelah sempat absen beberapa tahun, akhirnya Indonesia bisa mengirim seorang wakilnya ke Magic: The Gathering World Championship 2006 di Paris akhir bulan lalu. Jalan menuju ke ajang internasional bukanlah suatu yang mudah dan tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan seperti Victor Hartanto (26), sang juara nasional 2006 kita. Sekalipun menjadi pemain nomor satu di Indonesia, itu hanyalah sebuah awal untuk mengukir prestasi yang jauh lebih besar dan sulit dicapai.

Sekalipun belum memperoleh kesempatan menjadi seorang juara, tapi Victor berhasil membuat prestasi yang sangat membanggakan. Jadi bagaimana kisah perjalanan dan pengalaman teman kita yang satu ini di ajang turnamen tingkat dunia? Mari kita simak dan ikuti kisah pengalamannya dalam wawancara singkat dibawah ini.

Hi Vic, apa kabar? baru pulang dari Paris nih, mana oleh-olehnya untuk teman-teman disini? Hahaha, kabar baik! Disana enak banget pas musim gugur, jadi dinginnya nggak sampe bikin badan menggigil. Sebenernya sudah ada rencana mau beli pernak-pernik mtg di event-nya, tapi pas hari sabtu aku cari ternyata sudah SOLD OUT! Jadi nyesel deh nggak beli pas hari pertama.

Boleh tahu sedikit, bagaimana sih ceritanya hingga kamu bisa bermain MTG sampai ke Paris? Wah ini sih perlu jawaban yang panjang, soalnya aku sudah kenal magic lumayan lama.  Awalnya hanya ikut-ikutan FNM saja, dibantai terus setiap minggu hahaha, terus mulai ke taraf yang lebih serius saat mirodin keluar hingga ikut ke grandprix Kuala Lumpur 2006. Saat itu aku berempat dengan Bernhard, Haudy dan Murdock. Saat disana aku menjadi lebih yakin kalo pemain kita juga bisa bersaing dengan pemain-pemain dari luar negeri. Setelah itu aku bersyukur ternyata disini bisa ada turnamen nasional. Sekalipun di Nasional 2005 kemarin nggak masuk T8, aku nggak putus asa justru malah maju terus pantang mundur … eh ternyata 2006 bisa juara.

Menurut kamu, bagaimana suasana Paris dan komunitas MTG-nya? Bisa kamu ceritakan sedikit? Suasana di Paris bisa dibilang mirip dengan suasana negara-negara lain yang pernah aku kunjungi sebelumnya, yaitu animo masyarakatnya cukup besar. Event mtg diluar negeri benar-benar sesuatu yang istimewa, sampai-sampai banyak orang-tua sampai mengantar anak-anaknya yang masih kecil untuk nonton dan meminta tanda-tangan para pemain pro disana. Secara garis besarnya mtg di luar negeri khususnya di eropa sudah menjadi lifestyle yang bukan hanya sekedar hobi semata.

Apa benar disana kamu banyak bertemu para jawara MTG dunia? Siapa saja? Bukan hanya bertemu, tapi berteman dengan mereka. Satu yang paling berkesan dan bisa dilihat dengan mata kepala sendiri, the living legend Kai Budde (GER). Aku juga sempat berteman cukup akrab dengan beberapa pemain pro seperti Kenji Tsumura (JPN), Julien Nuijten (NDL) dan top 9th finisher Shaheen Sohrani (USA).

Kamu sempat bertemu dengan salah-satunya di meja turnamen? Siapa dan bagaimana rasanya melawan pro-player dunia? Yup, tepatnya di round kedua melawan Shota Yasooka (JPN) dan round sepuluh melawan Kenji Tsumura (JPN) dan keduanya aku berhasil menang 2-0. Pada round tujuh melawan Julien Nuijten (NDL), tapi sayangnya kalah 2-0. Melawan pemain pro ternyata sama saja seperti bermain dengan teman, asal kita percaya diri dan nggak kecil hati pasti ada kesempatan untuk menang.

Sebagai satu-satunya wakil Indonesia, bagaimana rasanya bermain tanpa adanya teman-teman seperjuangan disana? Saat menginjak kaki disana, rasanya agak kesepian sampai bingung mau omong dengan siapa hahaha. Masalahnya, entah kenapa orang-orang prancis bahasa inggris-nya agak minim, tapi sesudah sampai di event-nya aku mulai berteman dan nggak kesepian lagi. Biarpun begitu, aku tetap memilih untuk pergi dengan teman-teman senegara. Semoga saja tahun depan kita bisa mengirim lebih banyak lagi wakil lagi ke turnamen sejenis.

Omong-omong, apa kamu tahu bahwa di Indonesia banyak sekali teman-teman yang mengikuti perkembanganmu disana lewat internet? Kebetulan baru tahu tentang ini setelah hari kedua selesai, bahkan aku nggak tahu kalau ada fotoku saat membawa bendera Merah Putih. Pada hari itu kebetulan selesai lebih awal, jadi aku sempat ke warnet setempat untuk cek email dan chatting di MSN. Nah disana baru aku tahu ternyata di forum hobbyindo.com dan kartumagic.com banyak teman-teman disini yang memberi dukungan, jadi terharu rasanya hahaha. Setidaknya itu berarti banyak pemain-pemain disini yang peduli dan ingin juga ada orang Indo yang bisa sukses di turnamen internasional.

Sayang sekali kamu agak tersendat di turnamen extended, kenapa bisa begitu? Bukankah kamu bermain dengan deck yang cukup populer? Masalahnya, disini hampir nggak pernah ada event turnamen extended, jadi aku sulit mendapat kesempatan untuk tes format tersebut. Sebelumnya aku sempat mencoba cek deck-deck di internet,  ternyata event-event extended di luar negeri pun terakhir dimainkan sekitar satu setengah tahun yang lalu, jadi deck-deck yang adapun sudah bisa dibilang mubazir serta tidak layak dimainkan lagi. Akhirnya aku ambil keputusan untuk maen deck yang paling familiar, Affinity. Kebetulan aku suka deck aggro di metagame yang kurang jelas, sesuai anjuran seorang teman hahaha. Memang sayang banget sih nggak bisa masuk T8, tapi aku nggak mau berlama-lama melihat masa lalu dan sudah mulai siap-siap untuk masa depan. Di awal tahun depan ada grandprix Singapore dengan format extended, dan aku juga berharap banyak pemain-pemain disini yang bisa ikut untuk “payback” cita-cita aku yang tertunda di world kemarin hahaha.

Seandainya kamu bisa kembali ke MTG World Championship 2007, apa yang akan kamu lakukan kelak? Kalau punya kesempatan lagi bisa ikut di World, kali ini aku berani untuk pasang target yang lebih tinggi, karena setelah pergi kesana sekali aku mempunyai keyakinan kalau skill bermain orang-orang disini nggak kalah sama pemain-pemain pro. Mungkin yang masih kalah di soal deckbuilding-nya, dan untuk urusan itu bisa kita improve dengan cara lebih sering bermain deck bikinan dan kreasi sendiri. Boleh juga kalau mau netdeck, tapi harus setelah gagal dengan deck bikinan sendiri. Jadi siapapun yang bisa menjadi wakil Indo di World 2007, pesan aku adalah “Go and don’t waste your chance!” serta berani untuk mimpi besar.

Thanks Vic buat waktunya. Ada pesan dan kesan untuk teman-teman kita pecinta MTG di Indonesia? Pertama aku sangat berharap semakin banyak turnamen di Indo untuk mengasah skill pemain-pemain disini. Kedua, tentunya akan menyenangkan jika kita bisa mengirim lebih dari satu wakil ke World 2007 tahun depan.  Ketiga, aku sangat yakin tahun depan akan ada setidaknya seorang yang bisa masuk T8 dalam ajang turnamen bergengsi taraf internasional. Akhir kata, aku ucapkan banyak terima-kasih bagi semua pihak yang sudah memberikan dukungan selama aku pergi dan berlaga ke World 2006. You’re awesome guys! THINK BIG!

Diskusikan Artikel ini di Forum