Major Tournament 27 Feb 2005 - Extended - Report
GP Singapore Trial – Bandung telah berakhir dengan cukup sukses. Malah untuk sebagian anak Jakarta yang ikut, perjalanan kali ini berakhir dengan sangat seru. Jumlah peserta turnamen kali ini lebih sedikit dari perkiraan semula karena ketika saya masih di Jakarta dikatakan bahwa Frans bisa mengumpulkan peserta sampai dengan 20 orangan dari Bandung saja. Tapi untuk penyelengaraannya, salut kepada tim Bandung yang berhasil menyelenggarakan turnamen dengan lancar.
Saya sebenarnya tidak mempersiapkan diri untuk turnamen ini dengan matang. Saya memainkan deck UGr Madness yaitu madness splash merah yang didesain hanya 3 hari sebelum hari turnamen. Ini decklistnya:
4 Wild Mongrel
4 Basking Rootwalla
4 Aquamoeba
4 Grim Lavamancer
2 Flametongue Kavu
2 Wonder
3 Arrogant Wurm
2 Waterfront Bouncer
2 Intuition
4 Careful Study
4 Circular Logic
2 Roar of the Wurm
1 Deep Analisis
5 Forest
4 Wooded Foothills
2 Shivan Reefs
2 City of Brass
7 Island
2 Mountain
Sideboard:
2 Arcane Laboratory
3 Naturalize
3 Gilded Drake
3 Chill
2 Flametongue Kavu
2 Energy Flux
Kenapa saya memilih untuk memainkan deck ini? Jawabannya mungkin bisa kamu pikir agak konyol. Begini, saya adalah fans berat dari kartu Grim Lavamancer (ketika masih legal di standard, hampir setiap deck yang saya mainkan terdapat 4 Grim Lavamancer). Makanya begitu ada kesempatan memainkan kartu ini lagi tentu tidak akan saya lewatkan. Kemudian saya berpikir, splash merah untuk Grim saja sepertinya kurang solid, maka saya tambahkan saja Flametounge Kavu. Tapi kalau hanya karena alasan konyol ini maka deck ini bisa dibilang adalah deck asal jadi, namun keunggulan deck ini ada di late gamenya. Grim akan memiliki peluru yang banyak sekali untuk mengalahkan lawan, apalagi biasanya deck madness sudah kehabisan gas setelah creature nya dibunuh semua.
Playtest pertama saya dengan deck MBC benar-benar mengecewakan. Kalau tidak salah dari enam game yang dimainkan, deck madness saya kalah empat kali. Karenanya, sempat ada pikiran berubah deck ke Psychatog yang saya miliki sejak lama. Tapi karena waktunya mepet maka saya bawa saja dua-duanya ke Bandung . Sekadar informasi saja, deck madness saya belum memiliki sideboard.
Sabtu, 26 Februari 2005
Di pagi harinya saya masih sempat kuliah sebelum berkumpul di Taman Anggrek jam 12 siang. Setelah banyak yang terkumpul, kami ber-tujuh berangkat ke Bandung dengan mobil sewaan. Perjalanan memakan waktu 5 jam.
Sesampainya di Bandung, kami langsung drop tas di hotel dan pergi lagi ke lokasi turnamen. Disana kami menemukan anak-anak Bandung ramah-ramah. Kami semua pun melakukan trading sesampainya disana. Malah satu teman kami, Ipang (Aziz, Riphat) melakukan playtest deck Affinity-nya dengan pemain Bandung . Kami juga menemukan bahwa di lokasi turnamen juga terdapat warnet sehingga kami sempat bermain Warcraft: DotA disana. Kami pulang jam10an dari toko Frans.
Kami pulang ke rumah Ipang dan tidak jadi menginap di hotel (gile, hotelnya super cuan tuh karena kami belum sama sekali menyentuh ranjangnya sekalipun :p). Di rumah Ipang kami tidak langsung tidur. Hebatnya nih, kami tidak melakukan playtest deck diantara kami. Kami malah bermain Toronto ataupun draft (si ipang bawa box bo! Dan yang lebih gawat lagi ada diantara teman kami yang membawa laptop untuk dci reporter!!! Maksudnya agar bisa membuat turnamen sendiri). Jam 3 pagi, saya baru mulai merancang sideboard deck madness saya, namun kemudian ada diantara sideboard saya yang mengecewakan. Ini akan saya bahas nanti. Toronto dan draft berlanjut hingga sampai jam 6 pagi baru kemudian tepar (baca: tidur) semua.
Minggu 27 Februari 2005
Bangun jem 9, semua buru-buru bersiap dan sarapan. Selesai sarapan rombongan Jakarta langsung berangkat ke lokasi turnamen. Sesampainya di lokasi, saya menemukan toko Frans sudah ramai dengan deck-deck yang bervariasi. Turnamen dimulai jam 11 siang dan saya pun mulai duduk ke meja 8.
Match 1 – Trinity Green
Maaf, saya tidak ingat dengan nama pemain Bandung ini, tapi yang pasti deck Trinity benar-benar solid. Mana accelaration -nya sungguh mengerikan karena di turn ketiga saja sudah bisa memiliki delapan mana.
Game 1
Saya tidak ingat banyak apa saja yang terjadi di game ini. Tapi yang pasti di turn ketiga telah muncul Deranged Hermit dengan empat tokennya, sementara saya hanya wild mongrel. Grim Lavamancer akhirnya muncul untuk membunuh hermit, tetapi hermit kedua berarti concede (8 2/2 squirell, bercanda kali kalau bisa menang) .
Sideboard:
-4 Circular Logic
+2 Flametongue Kavu
+2 Gilded Drake
Kenapa saya mengeluarkan Circular Logic ? Karena logic biasanya tidak menemukan korban. Dengan mana yang sejibun, Trinity dengan mudahnya membayar pajak spellnya. Flametongue Kavu untuk membunuh ancaman, sedangkan Gilded Drake bermaksud meminjam Masticore . Kenapa saya mengambil resiko memasukkan Gilded Drake sementara di game 1 tidak ada Masticore? Kenapa saya begitu yakin ada Masticore dalam deck tersebut? Jelas karena deck ini adalah netdeck. Saya yang suka sekali mempelajari metagame baik itu Standard ataupun Extended, tentu bisa memperkirakan kekuatan (dalam hal ini hermit dan Masticore) dan kelemahan dari sebuah deck.
Game 2
Game ini dimulai dengan saya cast Grim Lavamancer. Lawan mengikuti dengan satu Llanowar Elves. Turn kedua carefull study dan membunuh elf. Ini penting karena menghambat Trinity satu giliran. Selanjutnya saya yang mendominasi dengan Flametounge Kavu dan Arrogant Wurm terbang (berkat Wonder). Tapi kekalahan Trinity kali ini bukan karena deck saya yang lagi cepat, namun Trinity tidak berhasil menemukan satu ancaman pun. On to game 3.
Sideboard tidak diutak-utik lagi.
Game 3
Saya memulai game dengan land yang agak seret dan hanya mampu menempatkan Aquamoeba . Trinity meloloskan creature ancamannya, Masticore (tuh kan ada). Tapi sideboard saya bersinar disini. Saya menukar Masticore dengan Drake. Saya merasa yakin setelah berhasil menukar Masticore-nya karena saya mampu membunuhi peri (baca: elf) dengan Masticore-nya. Tapi landnya tetap seret dan saya tetap harus membayar upkeepnya yang menyakitkan madness. Game berlanjut dengan Trinity meloloskan Hermit yang saya bunuh kemudian. Permanen Trinity ada sekitar delapan creature, sedang saya hanya satu (Masticore) dengan tiga land. Kemunculan Masticore kedua berarti tanda GG (good game) karena Masticorenya dengan mana yang banyak membunuh Masticore saya. Saya dengan life 20, menyerah di hadapan 4 elf, 4 squirell, 1 Masticore, 1 Gilded Drake. Kenapa life masih penuh tidak dilanjutkan? Percuma saja karena creature apapun yang saya tempatkan di play akan dibakar Masticore (winning percentage melawan Masticore = 0%).
0-1. Kalah di game awal adalah awal yang buruk. Saya pesimis bisa masuk top 4.
Match 2 – Fling Affinity
Affinity adalah deck yang sangat solid dan mampu menjalankan third turn kill. Tapi yang affinity yang kali ini lebih cocok disebut combo affinity karena terdapat Vampiric Tutor.
Game 1
Pertama kali dia menurunkan artifact land, saya langsung tahu berhadapan dengan deck apa. Saya memulai dengan jantung deck madness, Wild Mongrel . Affinitynya berjalan agak lambat. Di awal-awal Affinity langsung menurunkan Disciple of the Vault yang menguntungkan saya (Nah lo, koq bisa??). Karena selanjutnya saya cast Grim Lavamancer yang hanya perlu bersabar selama satu giliran sebelum menghanguskan DotV (catatan: dia belum punya Ravager). Selanjutnya saya beatdown saja untuk menang.
Sideboard:
-2 Flametongue Kavu
-2 Circular Logic
-1 Carefull study
+2 Energy Flux
+3 Naturalize
Flametongue Kavu terlalu lambat dan Logic juga susah mendapat target.
Game 2
Tidak banyak berbeda dengan game sebelumnya kecuali saya diancam Cabal Teraphy naming Energy Flux (yang tidak terdapat di tangan). Lagi-lagi Affinity menurunkan Disciplenya terlalu pagi. Roar of the Wurm terbang sudah tidak tertahankan lagi.
Hmm, lumayan tapi kedepannya belum jelas. Untuk masuk top 4, saya harus memenangkan 3 match berikutnya.
Match 3 – 4 Color Scepter Control
Lawan saya kali ini adalah teman saya yang ikut ke Bandung bersama-sama. Namanya Teguh. Agak kecewa juga karena saya mengharapkan tidak akan bertemu teman sekampung (hehe, kampung Jakarta :p).
Game 1
Teguh mengcounter kebanyakan ancaman saya diawal. Tetapi selanjutnya dia agak seret akan counter sehingga saya dapat menang dengan mudah. Satu hal yang saya rekomendasikan di decknya pada hari sebelumnya adalah penggunaan Disrupting Shoal dan terbukti kartu ini sangat berguna di environment Extended. Saat dia tap out untuk Isochron Scepter , Teguh tetap dapat mengcounter Aquamoeba saya.
Sideboard:
-2 Flametongue Kavu
-1 Waterfront Bouncer
Flametongue Kavu jarang mendapatkan target di deck-deck kontrol.
Game 2
Tetap saja menang mudah, sepertinya deck madness terlalu kuat untuk deck dengan 12 painland dan 4 fetchland. Apalagi Scepternya saya ledakkan dengan Naturalize .
2-1 Go, Go, dua lagi untuk masuk top 4.
Match 4 – The Rock
The Rock sempat mencapai tier 1 tahun kemarin dengan memenangkan Grand Prix-Grand Prix. Maka tentu The Rock tetap akan menjadi masalah di lingkungan Extended.
Game 1
Semua threat awal saya dibereskan dengan keluarga edict. Kalau tidak salah ingat, muncul sekitar 3 Diabolic Edict dan 2 Chainer's Edict . Untung Madness saya tidak mengecewakan saya karena tidak pernah sekalipun decknya seret akan creature. Sehingga gelombang creature tetap menerjang sampai pertahanan the Rock runtuh.
Sideboard:
-1 Carefull Study
-1 Basking Rootwalla
-1 Waterfront Bouncer
+3 Naturalize
Naturalize untuk menghindari ancaman Pernicious Deed. Namun saya mengeluarkan one-ofs karena saya tidak tahu apa yang harus saya keluarkan.
Game 2
Lagi-lagi the Rock berhasil mengontrol serbuan creature saya. Satu yang perlu dicatat di game ini. The Rock berhasil menempatkan Pernicious Deed di turn ketiga sementara saya sudah tiga Creature yang adalah Basking, Aquamoeba, dan Arrogant Wurm. Di turn keempat dia terpaksa harus blow (baca: ledakkan Deed), kalau tidak damagenya bisa menyakitkan. Disini Arrogant Wurm selamat karena sulit the Rock baru memiliki 4 land. Casting cost Wurm yang agak tinggi lumayan membantu. Selanjutnya Wurm dihabisi dengan Edict (lumayan sempat mukul sekali). Pelan-pelan saya berhasil menempatkan ancaman lagi dan kali ini semuanya terbang (wonder me baby). Rock mengembalikan Deed dengan Eternal Witness dan dicast yang kemudian tap out. Saya Naturalize deednya dan dua turn kemudian, saya menang.
3-1. Cocok! Satu lagi dan saya masuk top 4. Saya perkirakan bahwa saya akan menghadapi Reanimator karena ada dua reanimator di meja-meja atas.
Match 5 – UG Tempo
Kali ini saya harus menghadapi teman saya dari Jakarta lagi. Ricky Arifin adalah pemain yang berkualifikasi karena di dua turnamen Kamigawa Block terakhir dia memenangkan juara pertama dan masuk top 4. Pertarungan kali ini menjadi salah satu pertarungan terberat saya di turnamen ini.
Game 1
Dimulai dengan gigit-gigitan antara Wild Mongrel . Diteruskan dengan Arrogant Wurm yang dicounter Mystic Snake . Flametongue Kavu yang di Memory Lapse. Kemudian disiksa dengan Temporal Spring . Keadaan sudah jauh memburuk dengan life saya yang kritis tetapi Flametongue Kavu akhirnya resolve dan membalikkan keadaan karena memberikan saya kesempatan untuk bertahan hidup sampai Roar of the Wurm datang untuk menyelesaikan game (huahh, nyaris!).
Sideboard:
+2 Flametongue Kavu
-2 Waterfront Bouncer
Game 2
Awal gamenya tidak banyak berbeda dengan game pertama. Hanya saja Ricky mengejutkan dengan sideboard yang menggunakan kartu Betrayers of Kamigawa. Kartu Tersebut adalah Isao, Enlightened Bushi . Isao bisa sendirian menjaga perbatasan antara board saya dan Ricky. Saya tentunya tidak akan mau mengorbankan creature saya hanya agar Isao regenerate, maka saya defend hingga Grim Lavamancer muncul. Tapi yang lebih mengejutkan lagi, muncul kartu bom dari sideboardnya. Kartu itu tidak lain dan tidak bukan pedang abang Umezawa, Umezawa's Jitte . Saya langsung berusaha agresif, tetapi Isao dengan Jittenya membunuhi creature saya satu per satu. Kalah dengan Isao dan Umezawa's Jitte (equipment yang satu ini benar-benar menakjubkan).
Tidak ada sideboard lagi
Game 3
Saya mendapatkan tangan yang benar-benar agresif. Second turn Wild Mongrel . End of Turn Basking Rootwalla . Turn tiga Arrogant Wurm serta discard Wonder yang hanya bisa dia jawab dengan Isao (saya tanya sideboard Isaonya berapa banyak, dia bilang satu. Hebat ya, bisa keluar terus-terusan). Next Turnnya dia cast Umezawa's Jitte dan pukul. Menjadikan Jitte bercounter dan membunuh Basking Rootwalla. Lifenya sudah benar-benar rendah tapi karena ada Jitte, Ricky masih bisa bertahan. Ricky cast Fact or Fiction yang memberikannya 2 Temporal Spring sehingga kecepatan deck madness saya melambat jauh. Namun apa boleh buat, saya top deck 2 Circular Logic secara berturut-turut yang memberikan saya kemenangan.
4-1. Berhasil juga masuk empat besar setelah perjuangan melawan Ricky. Lumayan, setidaknya sudah pasti pulang dengan hadiah.
TOP 4
Yang masuk empat besar adalah Tje Fei Liem, Ipank, Andreas dan saya sendiri. Setelah dilaksanakan deck check, kami berempat mengundi lawan kami. Saya dipairing dengan Tje Fei Liem dan Reanimatornya.
Semifinal – Reanimator
Pertarungan ini sudah tak terhindarkan. Saya sudah tahu sejak awal pasti setidaknya sekali akan bertemu dengan Reanimator.
Game 1
Tangan saya bisa dibilang God Hand kecuali untuk Wondernya. Semuanya lengkap sehingga saya memulai dengan cepat. Tapi sayangnya Tje Fei ini lebih cepat lagi. Begini, first turn carefull study, Chrome Mox , Putrid Imp , membuang Rorix Bladewing . Second turn exhume Rorix dan pukul 6 damage. Oh iya bagi pemain madness, jangan pernah takut dengan reanimator karena deck ini justru good match up dengan reanimator. Yang perlu diingat adalah jangan panik ketika lawan exhume, ingat RESPOND!!! buang ARROGANT WURM. Cacing raksasa ini akan kembali ke play bersamaan dengan creature musuh. Damage kamu akan lebih mengerikan dan belum tentu Reanimator bisa mengejar damage kamu. Kembali ke game. Third turn Tje Fei carefull study lagi membuang Akroma, Angel of Wrath . Reanimate Akroma, kemudian discard kartu untuk membuat Imp flying dan semua creaturenya pukul dengan total 14 damage. Selanjutnya, saya kalah penasaran karena saya belum bisa berbuat banyak.
Sideboard:
+3 Gilded Drake
-2 Flametongue Kavu
-1 Basking Rootwalla
Flametongue Kavu tidak ada gunanya karena creature yang direanimatenya tidak ada yang mati diludahi FTK. Gilded Drake jelas untuk tukaran creature.
Game 2
Saya keep hand yang cukup agresif dengan wild mongrel. Tje Fei juga keep. Second turn saya cast Mongrel dan diikuti dengan exhume Rorix yang lagi-lagi saya respon membuang Arrogant Wurm. Dia pukul dan kemudian saya balas pukul dengan lebih menyakitkan. Saya cast Gilded Drake untuk menukarnya dengan Rorix. Selanjutnya, Tje Fei tidak bisa berbuat banyak kecuali bertahan. Next turnnya saya pukul dengan Rorix dan Basking Rootwalla meninggalkan Wild Mongrel untuk berjaga menahan creature-creature reanimate. Basking diblok Drake, Basking pump dan keduanya mati. Tje Fei kemudian reanimate Gilded Drake saya!! (ketika itu, saya tidak tahu kalau reanimate juga bisa target graveyard lawan. Maklum jarang bermain di extended) Menukar kembali Rorix yang saya curi. Tapi semua sudah terlambat karena lifenya tersisa 5 dan Rorix dalam keadaan tap. Saya ada Drake dan Mongrel, tidak lama dia concede. On to game 3.
No sideboard
Game 3
Awal game 3 ini bisa dibilang pengulangan game kedua. Dia exhume yang lagi-lagi saya respond dengan membuang Arrogant Wurm. Tapi kali ini saya memiliki Grim Lavamancer sehingga saya tidak merasa takut untuk menukar creature saya dengan Rorix Bladewing (yang akhirnya dia tukar juga dengan Arrogant Wurm). Kemudian saya cast Waterfront Bouncer yang berarti mimpi buruk deck-deck reanimator. Disini kemudian Tje Fei bermain bagus karena saya pikir deck reanimator tidak memiliki handle creature. Dia Echoing Truth Bouncernya, kemudian imprint Chrome Mox dan Cabal therapy naming Waterfront Bouncer! Nice play, Fei! Next turnnya saya pukul lagi dengan Mongrel dan Basking Rootwalla. Lifenya sudah kritis dan satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan exhume Rorix kembali. Tapi saat itu sudah terlambat karena saya sudah memiliki Circular Logic . GG (good game).
Berhasil memastikan setidaknya posisi kedua. Huh, Red Deck Wins menang dan ipang dengan affinitynya kalah. Wah artinya lawan terakhir saya perlu diwaspadai dengan extra.
Final – Red Deck Wins
Saya mendengar bahwa lawan saya kali ini adalah peringkat kedua DCI Indonesia. Kalau begitu pasti skillnya sudah teruji. Saya senang sekali bisa mencoba jagoan utama Bandung ini. Oh iya, lupa memperkenalkannya ke pembaca. Namanya Andreas, tapi dia biasa dipanggil dengan nick jamur (iya, jamur dari bahasa inggris mushroom).
Game 1
First turnnya adalah Jackal Pup . Sedang saya Basking Rootwalla . Tapi di turn-turn selanjutnya saya dikontrol dengan Wasteland dan Rishadan Port . Sementara saya hanya dengan Basking, Andreas sudah morph (you know what). Baru kemudian saya berhasil meloloskan Aquamoeba . Tapi Aquamoeba ini harus memblock morph (kenapa saya block ini diperdebatkan kemudian, tetapi menurut saya hemat 3 damage itu lumayan banget melawan deck seperti RDW). Selanjutnya saya dikontrol lagi dengan ditap terus dua forestnya. Saya sempat Intuition di upkeep sebagai respond terhadap tap. Saya ambil Wonder, Roar of the Wurm, Roar of the Wurm. Andreas memberikan saya Roar of the Wurm. Disini saya sudah menyimpan satu forest di tangan agar tidak ditap di turn selanjutnya. Maka setelah mananya cukup, saya play forestnya dan flashback Roar of the Wurm (6/6 for 4 mana is broken). Next turnnya Andreas pukul dengan Jackal Pup dan Grim Lavamancer yang tampak seperti desperation move. Saya block Jackal pup dengan Roar of the Wurm (UGH!!!). Selanjutnya Andreas scoop up (baca: menyerah).
Sideboard:
-2 Flametongue Kavu
-1 Grim Lavamancer
-1 Deep Analisis
-2 Waterfront Bouncer
+3 Chill
+3 Naturalize
FTK dan Grim saya keluarkan karena tidak kombo dengan Chill. Deep Analisis lambat dan flashbacknya damaging.
Game 2
First turn Andreas adalah Mogg Fanatic . Dari sini Andreas mulai bermain kontrol lagi. Saya sempat menyelipkan Aquamoeba yang langsung diurus. Selanjutnya percaya atau tidak saya tidak ada creature lagi kecuali Arrogant Wurm ditangan dan Mogg Fanatic memberikan lebih dari 10 damage sendirian. Begitu satu berhasil saya urus, muncul dua lagi yang harus saya Logic (bener mur, very annoying). Saya sebenarnya sudah kontrol dengan Chill, tapi creaturenya tak kunjung datang. Kemudian ada Cursed Scroll yang saya naturalize. Tapi yang membuat saya kalah adalah man land dari set Urza. Karena adalah land maka tidak bisa ditangani. Saya dihabisi dengan Flashback Firebolt.
Sideboard: none
Game 3
Game 3 tidak berarti sama sekali. Saya mulligan hand saya yang hanya memiliki satu land dan keep hand kedua yang hanya memiliki satu land juga. Andreas menemukan bahwa saya mana shortage dan langsung melancarkan strategi mana denial. Apalagi kemudian saya mendapatkan City of Brass, Rishadannya pun berubah target ke CoB. Ahh, kesal tapi harus mengakui GG (good game).
Selamat untuk Andreas yang berhasil menjadi juara GP Singapore Trial.
Final Credits
Metagame di Bandung benar-benar berbeda dengan metagame di luar negeri saat ini. Metagame Bandung dikuasai the Rock yang mana delapan dari total 23 deck adalah deck the Rock. Tetapi kemudian dibuktikan pula bahwa metagame di Bandung itu terlambat 2 bulan dibandingkan dengan yang luar negeri. Deck-deck luar negeri saat ini dikuasai oleh deck-deck kombo yang mengharuskan pemain menang dalam turn ke-tiga. Maka dari itu, banyak diantara pemain Jakarta yang datang menyiapkan sideboard melawan deck-deck kombo. Saya sendiri sideboard Arcane Laboratory untuk tujuan ini. Agak kecewa juga sih karena saya membuang dua slot sideboard untuk yang hal yang sebenarnya tidak ada. Ternyata metagame Bandung lebih ke arah creature based. Oleh sebab itu deck-deck seperti RDW dan Madness splash merah bisa berjaya. Kalau ada diantara kita yang ingin ikut GP Singapore sebaiknya kita bersiap melakukan test deck dengan deck-deck kombo.
Satu lagi. Diakhir perjalanan rombongan Jakarta ke Bandung berlangsung seru. Setelah selesai turnamen, kami sempat bermain DotA dulu yang menyebabkan kami terlambat. Kami langsung memborong angkutan umum untuk mengantarkan kami ke rumah ipang, mengambil bagasi dan kemudian lanjut ke stasiun. Di stasiun kami semua berlari masuk ke kereta, malah si Vic menenteng tas awen yang benar-benar berat. Hebat Vic!!
Untuk para pemain Bandung , kami mengundang kalian untuk turut berpartisipasi dalam turnamen Champions of Kamigawa Block di akhir bulan Maret ini.
That is all. See you at the next tournament, okay?
Diskusikan Artikel ini disini
Penulis:
- Jovan Thamrin